Tuesday , July 22 2014
Download MP3
You are here: Home / Headline / INFO BACKPACKER: Ini Dia Rute Perjalanan ke Gunung Semeru

INFO BACKPACKER: Ini Dia Rute Perjalanan ke Gunung Semeru

Rupa-rupanya informasi lika-liku perjalanan saya ini penting, sebagai referensi buat kawan-kawan yang kemudian akan juga pergi jalan-jalan.

Ya, itu baru saya sadari setelah kawan saya meminta saya untuk menuliskan hasil perjalanan saya ke Gunung Semeru. Maklum, kawan saya yang minta menuliskan ini pun suka jalan-jalan.

Dalam suatu perjalanan penting sekali untuk menunjuk siapa bendaharanya/pemegang uang perjalanan. Agar terkoordinir rapi pas di perjalanan dan tidak ribet.

Ongkos pergi-pulang perjalanan Gunung Semeru, diitung kasar yaitu Rp. 200.000 per orang dari Bandung. Rute perjalanannya; naik kereta dari Stasiun Kiaracondong Bandung ke Stasiun Gubeng Surabaya, kemudian Stasiun Gubeng Surabaya ke Stasiun Malang (Kota Baru atau Blimbingan), dari situ naik angkot ke Pasar Tumpang, dari Pasar Tumpang kemudian ke Kampung Ranu Pani naik truk.

Ini rute murah meriah, adapun rute yang agak mahal yaitu rute langsung Bandung-Malang, naik KA Malabar, ongkos tiketnya Rp. 135.000 per orang.

Bendaharanya yaitu Mochy. Bendahara, selain ia mesti mengatur uang perjalanan, juga ia mesti hapal rute perjalanan beserta ongkosnya.

Mochy ditunjuk sebagai bendahara sebab ia sudah punya kapasitas dalam hal ihwal mengatur uang dan hapal rute perjalanan. Maklum selain wartawan, ia juga tergabung dalam sebuah komunitas pecinta kereta api (terutama kereta api ekonomi).

Waktu itu, saya dkk pergi ke Gunung Semeru menjelang bulan puasa, tepatnya tanggal 14 Juli. Jadwal kereta api ekonomi kita ambil yang pagi, sekitar pukul lima pagi, diperkirakan sampai ke Surabaya, pukul 10 malam. Itu pun setelah seminggu sebelum keberangkatan kami membeli tiket. Harga tiket KA Ekonomi tujuan Surabaya, ialah Rp. 38. 000.

Menjelang bulan puasa, memang ada aturan baru di tata cara pembelian tiket, yaitu, saat membeli tiket sang pembeli mesti menyertakan KTP untuk setiap tiket.

Tiket waktu itu dibeli oleh Mochy dan Izot, untuk sepuluh tiket. Di sini pun ada aturan baru lagi, setiap orang tidak boleh membeli lebih dari 4 tiket.

Sesampainya kami di Stasiun Gubeng Surabaya, kemudian kami menuju loket KA Ekonomi menuju Malang. Loketnya baru dibuka, pagi esok harinya, sekitar pukul 4 pagi, maka kami menunggu di teras loket sampai pagi. Ada yang menunggu sambil tidur dan ada yang menunggu sambil minum kopi panas.

Akhirnya loket pun dibuka, kami membeli tiket menuju Malang seharga Rp. 4000 untuk setiap tiket. Perjalanan Surabaya-Malang ditempuh selama kurang lebih empat jam, dari pukul 7 pagi hingga 11 siang.

Di Malang, kami memutuskan untuk turun di Stasiun Blimbingan. Katanya lebih dekat ke Pasar Tumpang, tinimbang turun di Stasiun Kota Baru Malang. Dari situ, untuk menuju ke Pasar Tumpang, kami naik angkot, ongkosnya Rp. 5000 per orang, waktu yang ditempuh sekitar satu jam. Ongkosnya akan berbeda jika kami turun di Stasiun Kota Baru Malang, nambah Rp. 2500.

Setelah sampai di Pasar Tumpang, kami memenuhi syarat-syarat administrasi pendakian. Diantara syarat-syaratnya ialah; surat keterangan sehat dari dokter dan fotocopy KTP/ kartu tanda pengenal lainnya. Jika ada yang belum memiliki surat keterangan sehat dari dokter, mas-mas penjaga pos Pasar Tumpang dapat membantu membuatkan. Surat keterangan sehatnya, legal-resmi sebab mas-mas penjaga pos sudah bekerjasama dengan pihak puskesmas setempat.

Dari Pasar Tumpang untuk menuju Kampung Rani Pani ada dua pilihan kendaraan; menggunakan jeep atau menggunakan truk. Harganya pun berbeda, jika menggunakan jeep, ongkosnya Rp. 450.000 per jeep (dengan kapasitas lebih kecil dari kapasitas truk) namun jika menggunakan truk, ongkosnya Rp. 30. 000 per orang dengan minimal penumpang, 10 orang. Perjalanan dari Pasar Tumpang ke Kampung Ranu Pani kurang lebih dua jam.

Info Perjalanan Rute Jalan Kaki
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dari Pasar Tumpang, akhirnya kami sampai di Kampung Ranu Pani pukul 5. 30 sore.

Kami tidak langsung melakukan pendakian, melainkan berkemah dulu di kampung itu. Selain, bapak penjaga pos di Ranu Pani tidak mengijinkan kami mendaki sore itu, sebab di prosedur, ijin pendakian hanya sampai pukul 4 sore.

Di sini udaranya sudah mulai terasa dingin. Saking dinginnya, barangsiapa yang sudi menceburkan dirinya di danau kampung ini, pagi atau malam,  niscaya dia akan mati kaku membeku.

Kabar ini bukan kabar burung, pernah ada dua orang yang coba-coba berenang di danau kampung ini, alhasil mereka mati sebab seluruh tubuhnya kaku kedinginan, mereka tenggelam dan tak tertolongkan.

Keesokan harinya waktu matahari lagi hangat-hangatnya, sekira pukul 8 pagi, baru kami pamit ijin mendaki pada bapak penjaga pos Ranu Pani. Bapak penjaga pos itu orang Medan bukan orang asli Ranu Pani, sudah 13 tahun ia menetap di sini bersama anak dan istrinya yang asli sini.

Pantas gaya bicaranya sudah tidak seperti orang Medan sana. Gaya bicaranya sudah seperti orang pribumi, tak ada yang sangka ternyata dia orang Medan. Ada satu petuah yang masih saya ingat sampai kini dari beliau sebelum kami mendaki.

“kalian boleh tinggalkan sampah sebanyak apa pun di Kawasan Gunung Semeru, tapi jangan pernah tinggalkan teman di perjalanan,” katanya.

Bisa difahami, beliau berpetuah seperti itu. Dalam kondisi sedang menempuh perjalanan, teman adalah motivasi, teman adalah semangat, teman adalah sesuatu hal yang paling berharga, sebab dalam perjalanan temanlah satu-satunya yang kita miliki yang paling berharga selain motivasi dalam diri. Kilah beliau, sering terjadi rombongan pendaki yang sengaja meninggalkan temannya, akhirnya kehilangan temannya itu.

Biasanya teman yang ditinggalkan tersesat, alhasil mesti di-SAR oleh tim SAR. Hehe, orang tua memang bijak, dan sering lebih bijak dari anak muda, meski banyak juga orang tua yang tidak lebih bijak dari anak muda. Kebijaksanaan dari beliau ini patut kita serap dan kita ingat, “jangan pernah tinggalkan teman di perjalanan”.

Gapura bertuliskan “Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru” pun ada di depan mata, penanda bahwa kami siap mendaki menuju puncak. Ada 4 pos yang mesti kami lalui untuk sampai di Danau Ranu Kumbolo, salah satu danau terindah yang ada di Nusantara ini.

Sebelum akhirnya berkemah di Kali Mati dan menuju puncak. Rutenya; dari Ranu Pani menuju Kali Mati melewati 4 pos plus Ranu Kumbolo. Di Kali Mati kita bikin tenda dan kemudian muncak tengah malam, sekira 6 jam perjalanan normal dari Kali Mati ke Puncak Semeru (Mahameru).

Boleh dibilang, medan antara Ranu Pani sampai Kali Mati, itu enak dan tidak terlalu nanjak. Medannya landai para pendaki bilang. Baru dari Kali Mati ke Puncak Semeru, kita digenjot-nanjak sampai musti bilang ‘ampun’.

Dari Ranu Pani hingga pos 4. Kita boleh senang sebab dari Ranu Pani ke pos 1 jalannya tidak terjal melainkan landai. Begitu pun dari pos 1 ke pos 2. Nah di sini,  antara pos 1 dengan pos 2, kita akan melihat monyet berbagai jenis bergelantungan di pohon.

Jangan bayangkan monyet di sini sama dengan monyet yang sering kita lihat di stopan sepanjang jalan Soekarno-Hatta, yang suka dipakai mengamen, itu monyet terlalu kecil. Di sini kita akan berjumpa dengan monyet seukuran anak SD kelas 1 atau 2, besar bukan? Selain jenisnya yang berbeda-beda, warnanya pun beraneka rupa.

Kemudian di perjalanan antara pos 2 ke pos 3, kita akan berpapasan dengan tebing yang besar, tempat ini dinamai Batu Rejeg (entah Batu Rejeng, saya lupa lagi).

Baru di pos 4, panorama indah Danau Ranu Kumbolo terlihat.  Sekitar pukul 2 siang kami tiba di pos 4, itu artinya juga kita tiba di Ranu Kumbolo, sebab hanya tinggal turun ke bawah, air danau Ranu Kombolo bisa kita cicipi.

Di pos 4 kita istirahat sejenak, kemudian turun ke danau. Di danau kita istirahat selama 1 jam untuk masak, tidur-tiduran dan berjemur. Maklum, sampai danau cuaca begitu dingin, meskipun matahari masih bertengger di langit biru dengan sedikit awan.

Selain itu, di Danau Ranu Kumbolo ini, bila malam suhu bisa sampai 8 derajat, pantas siang pun suhu sudah terasa dingin, dan berjemur adalah kegiatan terpavorit. Di ketinggian 2400 mdpl, tempat bernama Ranu Kumbolo ini bertengger, pantas begitu dingin.

Logistik kami keluarkan, terus masak, untuk kemudian bergegas lanjutkan perjalanan. Sekira pukul 3 sore kami berangkat menuju Kali Mati.

Sepanjang perjalanan Ranu Kumbolo ke Kali Mati, kita akan berpapasan dengan Padang Ilalang luas setinggi dua meter dan dengan taman edelweis.

Di sini bunga edelweis terhampar, tepatnya 500 meter ke lokasi tempat kami akan berkemah, yaitu berkemah di Kali Mati. Di Kali Mati kami tiba pukul 7 malam, itu artinya kita menempuh waktu 4 jam dari Ranu Kumbolo.

Akhirnya kami tiba di Kali Mati, kami berkemah di sini, alasannya agar dekat dengan sumber mata air. Sekitar 1 km jaraknya sumber mata air itu dari tempat kami berkemah. Pas tiba, kami langsung bikin tenda, masak kemudian tidur sampai pukul 12 malam.

Pukul 12 malam kawan-kawan yang secara fisik dan mental siap, mereka pergi muncak. Sedang, saya, Lulu, Amri, dan Uqis memutuskan untuk beristirahat. Keesokan harinya, baru saya, Amri dan Uqis memutuskan untuk muncak.

Adapun, saya yang dihari pertama tidak ikut muncak alasannya karena lutut saya keseleo, kemudian Amri, dia kena gejala Hypotermia. Maklum Kali Mati ini berada di ketinggian 2500 mdpl, penyakit pegunungan akan mudah sekali diidap oleh pendaki.

Sebetulnya bisa saja kita berkemah di Arcopodo (2900 mdpl), akan lebih dekat sampai puncak, namun di sana tidak ada sumber mata air, jika pun ingin berkemah di sana persediaan air harus cukup. Dan kita harus mengenakan pakaian serta tenda yang aman dikenakan (aman, memenuhi standar), mengingat di Arcopodo begitu dingin, dan kerap kali muncul angin badai.

Sekian dan Terima Kasih, Mudah-mudahan Barokah. Selamat Mendaki….!! [Yoga/Kontributor]

About Miko

This boy, perhaps not kinda person who can mesmerized you in the first time, at least that what someone felt about him. But after you know him so much, you believed that everyone can fall in love with him if you can see him deeply. This boy, has a huge heart, fancy to make all the people around him happy, wherever he is. This boy, is such a hardworking and ambitious-calm person. He has a big confident in his life. He always says: ‘all the thing I dreamed of, must be realized, it’s just a matter of time’. This boy now has grow older, his age now is more than a quarter of a thousand. He is now is on the way to make his dreams come true one by one.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>